
Sharing Guru Tahfidz Bersama Syaih Abu Sayf: Menjadi Murabbi Sinergi Ilmu, Adab, dan Metodologi Tahfidz
3/10/2026

Baturraden, 10 Maret 2026 – Panitia Amaliyah Ramadhan Darul Qur’an Al-Karim menyelenggarakan kegiatan sharing session bersama Syaih Abu Sayf dari Palestina pada Selasa (10/03/2026) pukul 15.45–17.00 WIB. Acara ini diikuti oleh seluruh guru tahfidz dari TPQ, Rutaba, TK, SD, SMP, hingga PKBM Darul Qur’an Al-Karim.
Dalam kesempatan tersebut, Syaih Abu Sayf menyampaikan materi bertajuk “Menjadi Murabbi: Sinergi Ilmu, Adab, dan Metodologi Tahfidz”. Beliau menekankan bahwa meski tidak ada satu ayat pun yang secara eksplisit memerintahkan manusia untuk menghafal Al-Qur’an, Allah berjanji menjaga Kalam-Nya. Oleh karena itu, umat Islam diminta untuk mentadaburi Al-Qur’an, lebih dari sekadar membaca dan menghafalnya.
Syaih Abu Sayf menguraikan bahwa ayat-ayat tentang ibadah dalam Al-Qur’an jumlahnya kurang dari 200, sementara selebihnya berbicara tentang ilmu, pengetahuan, dan kehidupan. Ayat pertama yang turun, Al-‘Alaq 1–5, menjadi dasar penting: mengenal Tuhan, menuntut ilmu, dan mengaitkan sains dengan iman. “Ilmu tanpa agama akan lupa siapa Tuhannya, sementara agama tanpa ilmu akan pincang,” tegas beliau.
Beliau juga menekankan pentingnya usaha dan kesabaran dalam menuntut ilmu, mencontohkan kisah Nabi Ibrahim yang harus berjuang untuk memahami bagaimana Allah menghidupkan yang mati (QS. Al-Baqarah: 260). Selain itu, Syaih Abu Sayf mengingatkan bahwa sejarah adalah guru terbaik untuk memahami masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dalam sesi tersebut, beliau membagi ilmu menjadi empat tingkatan:
1. Ilmu untuk mengisi perut (kebutuhan dasar)
2. Ilmu pengetahuan (mengisi akal)
3. Ilmu ibadah (tata cara beribadah)
4. Ilmu ruhani (tazkiyatun nafs)
Semua tingkatan harus dipelajari secara bertahap tanpa melompati proses. “Belajar membutuhkan kesabaran, bukan instan. Kesabaran diperlukan untuk menahan lelah dan menghargai proses panjang,” ungkapnya.
Syaih Abu Sayf juga menyinggung kedekatan masyarakat Palestina dengan Al-Qur’an. Di Gaza, hampir setiap rumah memiliki penghafal Al-Qur’an, mulai dari polisi, perawat, ibu rumah tangga, hingga tukang kebun. “Al-Qur’an ada di hati mereka, meski di tengah kehancuran,” ujarnya penuh haru.
Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bagi para guru tahfidz. Semangat untuk terus belajar, mentadaburi, dan mengajarkan Al-Qur’an semakin menguat, sejalan dengan pesan Syaih Abu Sayf: “Teruslah belajar, dan belajar, karena membaca akan memperbaiki diri dalam belajar.”
